No Zero Sum
Bagaimana Anda membayangkan masa depan dunia. Apakah dunia akan dikuasai oleh para pemenang dan para pencundang akan menjadi kurcaci. Bill Gates melihat masa depan akan lebih cerah bila kita maju bersama-sama. No Zero Sum, katanya.
Saya tertarik dengan cara mereka berdua memandang dunia masa depan. Ia melihat dunia ke depan lebih cerah. Ia bilang bila India bangkit dan memiliki kesejahteraan yg sama dengan warga Amerika Serikat, dunia akan lebih baik. Tak perlu khawatir nasehatnya kepada warga negeri Paman Sam.
Ia melihat dunia masa depan bukan dalam situasi zero sum atau satu menang dan yang lain kalah. Dunia akan menang bersama-sama. Ini pernyataan yg mengubah cara pandang mayoritas masyarakat dunia.
No Zero Sum. Ini bukan ilusi. Ini cara baru melihat dunia sekitar kita. Cara berfikir seperti ini bermanfaat bagi fasilitator.
Baru saja, Rio, sobat di Kehati, sama-sama penderita diabetes, mengurungkan niat membantu pertemuan multipihak yg bicara soal Corporate Social Responsibility. Ia berasumsi prosesnya bakalan menegangkan karena berkumpul dua dunia yg berbeda. Perusahaan tambang multinasional dan organisasi lingkungan anti-tambang.
Sepintas memang tampaknya akan terjadi permainan zero sum. Saya tak terlalu yakin coba Anda baca beberapa buku Managing without Management, a Post-Management Manifesto for Bussiness Simplicity, karya Richard Koch dan Ian Godden. Atau, tulisan Anita Roddick, Bussiness Unsual. Keduanya memaparkan reformasi kapitalisme baru terjadi bila perusahaan2 raksasa itu terpaksa berubah karena dituntut konstituennya.
Perubahan pada perusahaan transnasional dan gerakan lingkungan pada gilirannya akan menciptakan koeksistensi antara dunia private, negara dan komunitas.
Ia melihat dunia masa depan bukan dalam situasi zero sum atau satu menang dan yang lain kalah. Dunia akan menang bersama-sama. Ini pernyataan yg mengubah cara pandang mayoritas masyarakat dunia.
No Zero Sum. Ini bukan ilusi. Ini cara baru melihat dunia sekitar kita. Cara berfikir seperti ini bermanfaat bagi fasilitator.
Baru saja, Rio, sobat di Kehati, sama-sama penderita diabetes, mengurungkan niat membantu pertemuan multipihak yg bicara soal Corporate Social Responsibility. Ia berasumsi prosesnya bakalan menegangkan karena berkumpul dua dunia yg berbeda. Perusahaan tambang multinasional dan organisasi lingkungan anti-tambang.
Sepintas memang tampaknya akan terjadi permainan zero sum. Saya tak terlalu yakin coba Anda baca beberapa buku Managing without Management, a Post-Management Manifesto for Bussiness Simplicity, karya Richard Koch dan Ian Godden. Atau, tulisan Anita Roddick, Bussiness Unsual. Keduanya memaparkan reformasi kapitalisme baru terjadi bila perusahaan2 raksasa itu terpaksa berubah karena dituntut konstituennya.
Perubahan pada perusahaan transnasional dan gerakan lingkungan pada gilirannya akan menciptakan koeksistensi antara dunia private, negara dan komunitas.

Saya setuju bahwa sebuah institusi akan berubah jika lingkungan internal dan eksternalnya memaksa mereka untuk melakukannya. Aku percaya bahwa motif dasar orang atau organisasi mau berubah karena 2 hal: Pertama, kalau tidak dilakukan maka dia/mereka akan hancur binasa dan Kedua, kalau dilakukan dia/mereka akan mendapatkan keuntungan luar biasa. Nah, dalam konteks ini bagaimana memprosesnya dalam pertemuan multi pihak? Apakah bisa dengan melontarkan pertanyaan2 untuk 2 kategori alasan perubahan di atas?
Satu hal lagi, saya melihat bahwa kecenderungan NGO untuk bertempur atau memperjuangkan "the most ideal goal" seringkali menjadi barrier untuk mendapatkan kemenangan2 besar. Kita sering lupa bahwa birokrasi, parlemen, parpol, pengadilan, perusahaan2 besar adalah mesin2 yg kompleks. Menaklukkan mesin2 ini harus dengan target yang spesifik dan tepat di jantung sasaran. Seperti mobil, kalau mau dibuat mati ya harus dicabut akinya, dsb. Yang paling sering diserang itu kan selalu hirarki puncaknya, misalnya presiden, menteri, direktur dan sebagainya. Padahal menurutku sebelum sampai ke puncak, kita harus serang dulu lingkaran2 pemasok informasi pengambilan keputusan. Dalam tiap organisasi selalu ada kelompok tersembunyi yang menjadi sandaran para pemimpinnya, yang bahkan seringkali jadi pemilik kekuasaan yang sesungguhnya.
tabik,
deddy (Comment this)
Boleh jadi utopia. Saya suka dengan cara berfikir mereka (walau saya pribadi tidak suka Bill Gates). Cara berfikir seperti ini bisa dipakai oleh komunitas saat bernegosiasi dengan para kapitalist.
Saya selalu ingin memanfaatkan cara berfikir positif untuk memperkuat kelompok-kelompok yg dipinggirkan. (Comment this)